Posted by Duddy on Apr 21, '08 10:21 PM for everyone
Kawan-kawan kita harus mengalah. Ruang kita dipake iklan satu halaman penuh. Wawancara khusus dengan Mendiknas, kita tunda buat pekan depan. Tak usah kecewa, salah satu tulisannya saya parkir dulu di sini. Versi online-nya juga sudah muncul tuh! Okay?

Lulus SMA Harus Memiliki Keterampilan Vocational
Wawancara Khusus dengan Mendiknas

MENGIKUTI hajatan dunia pendidikan Kota Tasikmalaya yang menghadirkan Mendiknas Bambang Sudibyo, membuat penasaran saja. Kru Sabasakola dari Q SMART SMA Al Muttaqin yang mengikuti acara tersebut menjadi terbuka wawasannya. Satu diantaranya, ada istilah IPM.

Apaan ya? IPM itu suatu kategorisasi keber-hasilan pembangunan suatu kabupaten/kota, provinsi ataupun Negara. IPM itu kepanjangannya Indeks Pem-bangunan Manusia. Semakin tinggi nilai IPMnya, maka suatu daerah itu dinilai semakin maju. IPM itu sendiri terdiri dari 3 komponen nilai, yaitu pendidikan, kese-hatan, dan daya beli atau perekonomian.

Nah… saat kunjungan kemarin, Mendiknas banyak cerita soal IPM Pendidikan Tasikmalaya dari komponen pendidikan dibandingkan dengan rerata IPM Pendidikan Jawa Barat, dan juga nasional. Mendiknas yang mengawali karir sebagai Dosen Fakultas Ekonomi UGM ini, bertutur soal program-program pendidikan yang menjadi parameter keberhasilan pendidikan suatu daerah.

“Ada beberapa komponen pendidikan yang harus dicapai suatu daerah agar IPM bidang pendidikannya bagus. Program tersebut antaranya PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini, Wajar Dikdas 9 atau 12 tahun, penuntasan buta aksara, dan komposisi jumah SMK dan SMA yang harus mencapai 70:30% ” ujar Menteri dalam pidatonya.

Waduh semakin penasaran aja nich soal dunia pendidikan di Indonesia. Apalagi pak Menteri dalam pidatonya selalu menyebut istilah pendidikan vokasi harus ditingkatkan. Kota Tasikmalaya harus mampu menjadi Kota Vokasi seperti halnya Gunung Kidul.

Apaan ya vokasi itu? Maka, Meski harus berdesakan di antara ajudan, wartawan senior, serta para tamu undangan, reporter Saba Sakola mampu ngingintil demi terjawabnya rasa keingintahuan selama ini tentang pendidikan. Sempat juga memberikan majalah Q Smart edisi perjuangan kemarin. Semoga dibaca Mendiknas.

Berikut petikan hasil wawancara Siti Awaliyati Deliabilda, Santi Fitri dengan Menteri Bambang Sudibyo dilengkapi paparan pidato Mendiknas di hadapan para tamu undangan.

Bagaimana Bapak melihat Pendidikan di Kota Tasikmalaya?
Berdasarkan laporan dari Walikota dan data yang dimiliki Dep-diknas, pendidikan Kota Tasikmalaya sudah cukup bagus. Buta akasaranya sudah kecil nol koma sekian persen. Lalu wajar Dikdas sudah bagus. Hanya saja saja untuk PAUD dan perbadingan SMA dan SMK perlu ditingkatkan terus.

Pak, mengapa seka-ang SMK lebih diperbanyak dibanding SMA?
Hal ini selain untuk memperbaiki citra SMK di mata ma-syarakat, juga untuk mempersiapkan generasi muda yang terampil. Kurikulum SMK itu mengantarkan lulusan SMK siap mengahadapi dunia kerja. Di SMK itu diajarkan life skill atau keterampilan vocational.

Tapi kalau lulusan SMK kerja di perusahaan, bukankah sekarang ini banyak perusahaan di Indonesia yang milik luar negeri?
Kata siapa? Tidak juga. Banyak lulusan SMK yang menjadi pengusaha-pengusaha besar di Indonesia.

Kemungkinan yang menjadi pengusaha itu lebih sedikit persentasinya dibanding lulusan SMK lain. Lalu, bagaimana nasib lulusan SMK yang lain? Apakah akan menjadi buruh?
Tidak seperti itu. Dengan memperbanyak SMK semoga bisa menambah keterampilan generasi muda, meskipun tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dan program ini bukan untuk menambah buruh.

Kalau untuk SMK apakah ada juga kurikulum agar bukan hanya siap kerja di perusahaan, tetapi juga mampu berwirausahaan ?
Ada. Di SMK juga kita arahkan kepada kewirausahaan. Sehingga para lulusan SMK itu siap kerja, memiliki keterampilan vocational.

SA Deliabilda, Santi, Fitri, Wegan
SMA Al Muttaqin

28 CommentsChronological   Reverse   Threaded
elisawijaya wrote on Apr 21, '08
bagus juga sih
tapi yg paling penting, biaya pendidikan jgn mahal2.
kalau biaya pendidikan mahal, mau sekolah aja susah , gimana mau jd pengusaha?
bukune wrote on Apr 21, '08
PAk Mendikans bilang, "Kurikulum SMK itu mengantarkan lulusan SMK siap mengahadapi dunia kerja. Di SMK itu diajarkan life skill atau keterampilan vocational."
Soal skill, saya sepakat. Tetapi realitanya, mayoritas perusahaan2 di Indonesia menerima pegawai minimal lulusan S1, setidaknya diploma. Saya sering browsing lowongan, banyak memang, tapi ya gitu, syarat: S1. Terus anak SMK mau kerja di bengkel semua?
Sementara untuk jadi pengusaha, nggak semua punya modal kan?
boedzielt wrote on Apr 21, '08
perkara pelik dan akar masalah. hehe!
boedzielt wrote on Apr 21, '08
tapi yg paling penting, biaya pendidikan jgn mahal2.
di kampungku banyak yang jual sawah. heuheuheu!
sopiahyar wrote on Apr 21, '08
gw anak SMK loh

:D
oelantkoe wrote on Apr 21, '08
cuma mo share pengalaman temen niy,

1) tamatan SMK jurusan mesin , kerja sebagai buruh di pabrik/bengkel spare part , kariernya meroket pesat hingga dlm waktu 3-4thn sudah bisa memiliki jabatan di PTnya. (lebih dr 5 tmnku yg ceritanya hampir sama dgn ini)

2) tamatan smk jurusan mesin , kerja sbg buruh di bengkel kurang lebih selama 5-6thn , skrg sudah memiliki usaha bengkel bubut sendiri patungan ma temn temennya dengan anak buah lebih dari 4 org.

cuma mo bilang, engga rugi sama sekali lho masuk SMK khususnya yang kesulitan untuk meneruskan kuliah lagi. dan bakalan lebih bagus jika ditambah kuliah tentunya.


oelantkoe wrote on Apr 21, '08
di kampungku banyak yang jual sawah. heuheuheu!
jual sawah untuk jadi polisi ya mas? ^_^
boedzielt wrote on Apr 21, '08
gw anak SMK loh
cerah dong. ;))
boedzielt wrote on Apr 21, '08
cuma mo bilang, engga rugi sama sekali lho masuk SMK khususnya yang kesulitan untuk meneruskan kuliah lagi. dan bakalan lebih bagus jika ditambah kuliah tentunya.
bener tuh. akhirnya berpulang ke individu masing-masing kan? kalo kreatif pasti sukses. beberapa teman kuliahku, malah ada yang masih nganggur juga...
boedzielt wrote on Apr 21, '08
jual sawah untuk jadi polisi ya mas? ^_^
salah satunya. :D kok tahu?
agungpia wrote on Apr 21, '08
hmmmm . . ..
klo saya sih setuju ama mendiknas tersebut . . . .

hmmm . . .
boedzielt wrote on Apr 21, '08
hmmmm . . ..
klo saya sih setuju ama mendiknas tersebut . . . .

hmmm . . .
saya juga setuju, gung. paling tidak dia sudah berbuat sesuatu, kan?
agungpia wrote on Apr 22, '08
saya juga setuju, gung. paling tidak dia sudah berbuat sesuatu, kan?
hehehehe . . . iyah . .. paling tidak . . wekekekek
boedzielt wrote on Apr 22, '08
iyah . .. paling tidak . .
lumayan, kan?
boedzielt wrote on Apr 22, '08
cuma mo share pengalaman temen niy,
tfs :D
mmamir38 wrote on Apr 22, '08
Aku sering bingung. Para pejabat sering punya ide-ide "cemerlang" yang biasanya hanya berlaku temporer tanpa follow-up.
Sebagai contoh adalah konversi minyak tanah ke LPG, penjatahan BBM, raskin, pembagian Rp.100 ribu buat keluarga miskin setiap bulan yang adapat diambil tiap 3 bulan sekali, dsb. dsb.
Kapan negara kita bisa maju, bila setiap kebijaksanaan dilakukan atas intuisi yang tidak ada dasarnya?
tintin1868 wrote on Apr 22, '08
nah bahasa indonesia vocational itu eyd? bisa vokal maksud ya.. biar pede.. tfs ya..
heyderaffan wrote on Apr 22, '08
Duddy, konsep IPM Pendidikan yang diutarakan Mendiknas itu penting, walaupun istilah lain yang mungkin mirip itu juga acap kita dengar. Tapi 'jargon' itu saja tak cukup, menurutku. Yang penting adalah bagaimana mewujudkannya....
ciciatjeh wrote on Apr 22, '08
pak menteri lupa yaaa? lebih banyak pengusaha sukses itu ngga lulus SD apalagi SMK.. lhoo.... hehehhehe... TFS
ngga tayang cetak karena iklan... waahhh pendapatan mengalahkan pendapat nehh.. :)
boedzielt wrote on Apr 22, '08
Para pejabat sering punya ide-ide "cemerlang" yang biasanya hanya berlaku temporer tanpa follow-up.
harus diberesin shaf-nya, ya dok. belum berjamaah, jadi nggak rapi ngejalaninnya. percuma aja kan kalo "one man show" terus? :D
boedzielt wrote on Apr 22, '08
nah bahasa indonesia vocational itu eyd? bisa vokal maksud ya.. biar pede.. tfs ya..
saya tau dan dengar kata itu dari teman-teman pelajar itu. hasil nguping. hihihi!
boedzielt wrote on Apr 22, '08
Tapi 'jargon' itu saja tak cukup, menurutku. Yang penting adalah bagaimana mewujudkannya....
iya, kadang-kadang saya juga ragu tuh. proses dan rumus hitung-hitungannya boleh jadi benar. tapi datanya entah valid atau kagak. habis, angka-angka akhirnya yang muncul. angka IPM-nya bagus, tapi masih saja ada yang kurang gizi dan kelaparan. heuheu!
boedzielt wrote on Apr 22, '08
pak menteri lupa yaaa? lebih banyak pengusaha sukses itu ngga lulus SD apalagi SMK.. lhoo.... hehehhehe... TFS
nggak lulus SD dan SMK aja bisa gitu. apalagi kalo lulus ya? hihihi, sistem pendidikan kita udah bagus kok ci? cuma ngejalaninnya belum pas, kali... :D
boedzielt wrote on Apr 22, '08
ngga tayang cetak karena iklan... waahhh pendapatan mengalahkan pendapat nehh.. :)
secara emosional saya pingin maksain supaya tayang ci... tapi secara rasional, ternyata saya musti realistis juga. hahahaha!
mmamir38 wrote on Apr 22, '08
harus diberesin shaf-nya, ya dok. belum berjamaah, jadi nggak rapi ngejalaninnya. percuma aja kan kalo "one man show" terus? :D
Masa iya sih belon berjamaah?
Nah korupsinya?
He he he!
boedzielt wrote on Apr 22, '08
Masa iya sih belon berjamaah?
Nah korupsinya?
He he he!
hahahaha itu dia. kalo yang ini mah, dorongannya lain... kagak nahaaaan!
maskelik wrote on Apr 23, '08
bukan, maksudnya biar bisa jadi vokalis grup band gitu mungkin...
boedzielt wrote on Apr 23, '08
itu lifeskill juga kan?
Add a Comment
   
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help