RABU (7/5), saat perjalanan pulang, Kang Tatang Sumarsono mengabarkan. "Jumat malam (9/5) ada acara penyerahan anugrah gubernur, Duddy salah satu nominasi. Undangan tertulis menyusul," katanya lewat telepon.
Kabar gembira itu membuat saya tercenung. Pasalnya, sejak saya kembali ke Tasikmalaya, sudah tak produktif lagi menulis esai atau laporan jurnalistik dalam bahasa Sunda. Meski sesekali sempat mengirim ke Galura (tabloid berbahasa Sunda grup PR) dan Cupumanik.
Majalah Mangle -- tempat saya belajar banyak -- malah sudah lama tak dikirimi naskah. Kang Duduh Durahman, sempat meminta saya untuk kembali aktif menulis kolom di Mangle saat bertemu di Kongres Internasional Budaya Sunda, beberapa tahun lalu. Tapi, sampai saat ini saya tak bisa memenuhinya. Maafkan saya, Kang!
Teman saya,
Nazaruddin Azhar pun sering memprovokasi, agar saya kembali ke "habitat". Tapi, entah apa penyakitnya. Saya begitu lamban. Apakah lantaran saya sudah terjebak panggung rutinitas kesibukan di koran?
Jadi saya datang ke Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jl Naripan 7-9, tidak berharap mendapat anugerah itu. Saya cuma ingin bernostalgia, menghirup
hawa Bandung kini.
Akhirnya, sebuah tamparan keras saya rasakan, saat di antara lima penulis bermedia Sunda --
Asep Ruhimat, Hawe Setiawan, Mamat B. Sasmita, dan T. Bachtiar -- saya termasuk yang mendapat anugrah Gubernur Jawa Barat di bidang p
enulisan esai, laporan jurnalistik, dan buku.Mudah-mudahan, tamparan keras ini bisa membuat saya kembali ke suasana menggairahkan, seperti, enambelas tahun lalu.
Halo Bandung! Semalaman kuhirup udaramu...
foto: Dadan Sutisna/Cupumanik